Feeds:
Pos
Komentar

Pinjaman yang baik

Qur'an Surat Al Hadiid 11

Siapakah yang mau meminjamkan kepada Alloh pinjaman yang baik, maka Alloh akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak. (Qur’an Surat Al Hadiid ayat 11)

Pinjaman kepada Alloh. Maknanya, kita memberikan sesuatu di jalan Alloh diluar kewajiban kita. Kalau zakat kan sudah wajib, jadi kalau kita mengeluarkan uang untuk zakat, maka bukan memberi pinjaman, tetapi sudah kewajiban. Tetapi ada bentuk amal jariyah yang lain yang hukumnya sunnah. Infaq dan Shodaqoh misalnya, ada yang hukumnya sunnah. Kita tidak wajib melakukan yang sunnah seperti halnya kita tidak wajib memberi pinjaman kepada seseorang. Tetapi jika kita melakukan itu, yang dapat dianalogikan memberi pinjaman kepada Alloh, maka balasannya akan berlipat ganda.

Alloh sih tidak pernah minta dipinjami karena memang tidak butuh. Tetapi kalau kita mau meminjami, Alloh berjanji dalam Qur’annya bahwa balasannya akan berlipat ganda. Berapa lipat ganda? Ada yang bilang sepuluh, empat puluh, seratus, bahkan ada yang bilang tujuh ratus. Terserah Alloh lah. 😀

Kalau saya mau amal, disalurkan kemana? Orang di sekitar saya konglomerat semua nih. Atau mau disalurkan ke orang miskin, tapi orangnya nyebelin setengah mati. Nanti malah tidak ikhlas.

Silahkan salurkan ke lembaga-lembaga zakat yang terpercaya. Saya yakin dimana-mana ada. Lembaga ini akan mengelola amal jariyah kita secara profesional. Jadi cukup setor dan selesai. Tidak perlu repot-repot. Ada beberapa lembaga zakat yang bahkan penyalurannya kita bisa memilih. Misal untuk sumbangan orang miskin, untuk beasiswa, untuk masjid, dsb. Kalau saya sih mengutamakan untuk beasiswa. Demi mendidik generasi muda. 😀

Lho, saya sudah amal seratus ribu, tetapi balasannya mana? kok saya tidak dapat minimal sejuta? Atau bahkan tujuh puluh juta.

Plis deh. Memangnya karunia Alloh itu hanya diwujudkan dalam bentuk uang? Kesehatan kita juga tidak bernilai harganya, kan. Oke, mungkin Alloh tidak membalas dengan uang tunai. Tetapi kita dihindarkan dari penyakit yang kalau diobati bisa habis puluhan juta rupiah. Sama aja, kan. Atau kesehatan orang tua kita, anak-anak, dsb. Dan masih banyak karunia dalam wujud yang lain.

Udah shodaqoh, tapi kok masih sakit?

Mungkin itu ujian. Dan orang yang diuji pasti dalam rangka akan naik derajatnya.

Demikian penafsiran saya. Kalau ada yang salah mohon diluruskan. Maklum, bukan ustadz. Sholat juga masih sering telat 😀

Minggu, 13 Januari 2013
Pada hari Minggu ku turut ayah ke kota.. Eh, salah. Pada hari Minggu ku turut Ibu ke Madiun. Bukan turut Ibu sih, karena faktanya saya yang mengemudikan mobilnya. Ceritanya pada pagi itu, Minggu, 13 Januari 2013, Ibu mendapat telpon yang mengabarkan ada kerabat yang meninggal di Madiun. Sontak, tanpa banyak pertimbangan, kami langsung berkemas dan berangkat ke Madiun. Perjalanan saya lancar-lancar saja, hingga memasuki perbatasan Kab. Malang – Kab. Kediri, tepatnya di Kecamatan Kandangan.

Begitu memasuki Kab. Kediri, mobil kami dihentikan oleh sekelompok Polisi yang mengadakan razia. Dalam hati sih saya tahu kenapa kami dihentikan. Pasti gara-gara ibu saya yang duduk di samping saya tidak mengenakan sabuk pengaman. Ibu saya memang tidak pernah mau mengenakan sabuk pengaman. Alasannya, karena bikin sesak di perut. Dan ternyata benar, polisi yang menghampiri kami langsung menegur ibu saya yang tidak memakai sabuk pengaman. Ibu saya kaget dan minta maaf, dan segera memasang sabuk pengaman. Saya sih senyum-senyum saja. Kemudian saya disuruh turun.

“Silahkan turun dulu, Bapak”, ucap Polisi tersebut sambil membawa SIM dan STNK saya.

Klik disini untuk baca selengkapnya

Just Enjoy the Show…

Just enjoy the show, potongan lirik dari lagu The Show yang dipopulerkan oleh Lenka. Bukan berarti saya ngefans Lenka lho ya. Saya tahu lagu ini karena jadi salah satu soundtrack film Moneyball. Di film ini juga bukan Lenka yang nyanyi, tapi dinyanyikan oleh Kerris Dorsey, aktris 12 tahun yang di film itu berperan sebagai putri tunggal Billy Beane, si tokoh utama yang diperankan oleh Brad Pitt.

I don’t know why, but in my opinion Dorsey’s version is more touching than Lenka’s. 😀 Anda bisa melihat versi lagu ini dari video yg di embed berikut ini.

Lagu ini tentang bagaimana seseorang harus “enjoy the show”. Kita bisa memaknai show disini adalah kehidupan. Atau kira-kira pemaknaan kasarnya, “Nikmatilah hidup yang sedang diputar oleh yang Maha Memutar Kehidupan”. Kalau menurut saya sih, lagu ini ditujukan kepada orang-orang yang telah berusaha keras dalam hidup, dan masih belum mendapatkan apa-apa. Tidak perlu putus asa atau frustasi, just enjoy the show.

Apa hubungannya dengan saya? tidak ada sih. Saya bukan seseorang yang selalu berusaha untuk meraih yang terbaik dalam hidup. Saya sering membuang-buang waktu, menanti deadline sebelum mengerjakan sesuatu, hingga akhirnya membuat hasil yang saya peroleh tidak maksimal. Tetapi sedikit ada hubungannya. Setidaknya membuat saya untuk sedikit enjoy the show.

Ketika masih kuliah S1, saya sering menyia-nyiakan waktu hingga akhirnya saya lulus 11 semester. Banyak alasan yang dapat digunakan untuk membenarkan masa studi saya yang lama. Tetapi saya akui, sering menyia-nyiakan waktu adalah alasan utamanya. Ketika S2, hampir saja sih seperti itu lagi, tapi untung saja masih lulus tepat 2 tahun.

Ketika saya lulus S2, saya baru akan memulai karir. Disaat teman-teman saya sudah memulai karir 2-3 tahun lebih awal. Dan karir yang saya pilih adalah menjadi dosen. Kalau dibanding jadi buruh sih ya lebih bergengsi dosen, tapi kalau dibandingkan dengan menjadi direktur BUMN, tentu jadi direktur BUMN lebih bergengsi. (Ya iyalah, tapi masalahnya mana mungkin masuk BUMN langsung jadi direktur. Hahaha.. Tetep aja harus mulai dari bawah lah..)

Intinya saya terlambat. Saya akui itu. Masalahnya saat ini adalah saya terlalu berusaha untuk mengejar secepat-cepatnya. Berusaha untuk sukses secepatnya. Sehingga ketika usaha itu tidak (belum) berhasil, saya merasa jadi orang gagal.

Tetapi setelah saya renungkan, mungkin justru keinginan untuk sukses secepatnya itulah yang membuat saya tidak berhasil. Keinginan untuk cepat sukses malah membuat saya tidak menikmati hidup.

Obsesi saya saat ini adalah ingin meneruskan S3 secepatnya. Berbagai topik saya pelajari, beberapa saya seriusi, tetapi tetap saja saya tidak mendapatkan passion dari beberapa topik tersebut. Kemudian saya memaksakan diri, tetapi tetap tidak menemukan apa-apa. Mencoba lagi, dan tidak menemukan apa-apa lagi. Hingga akhirnya saya sadar, saya terlalu memaksakan diri untuk topik ini. Kenapa tidak meneliti apa yang saya suka, untuk kemudian membangun pondasi pelan-pelan. Hingga nanti kalau studi S3 benar-benar meneliti sebuah topik yang saya memiliki passion untuk menyelesaikannya. Walaupun itu berarti baru akan menempuh S3 1-2 tahun lagi. Setidaknya saya ada di jalan yang saya kehendaki. Just enjoy the show, just enjoy the life.

Obsesi yang lain adalah menikah. Saya ingin menikah secepatnya. Tetapi semakin saya ingin mempercepatnya, semakin terasa akan lama. Hahaha.. Just enjoy the show. Nanti jika Alloh sudah menghendaki, tidak ada yang dapat menghalangi. 😀

Yang terpenting adalah, untuk kedua obsesi itu, saya tidak akan menjadi apa yang tidak saya kehendaki. Hanya agar kedua obsesi tersebut cepat terwujud.

*ini ceritanya saat ini lagi galau untuk kesekian kalinya*
*tapi just enjoy the show*

Kali ini saya ingin membahas lagi tentang Harapan Kita Cirebonan. Hal ini karena saya merasa tulisan saya sebelumnya sudah tidak up-to-date lagi. Tulisan saya tentang bis Harapan Kita sebelumnya dapat dibaca disini.

Harapan Kita Probolinggo-Surabaya-Cirebon

Entah mulai kapan, tapi yang jelas November 2012 ini ketika saya berkunjung ke Terminal Bungurasih, terdapat 5 kali pemberangkatan sehari, dibanding dengan beberapa tahun yang lalu yang hanya 2-3 pemberangkatan sehari. Info ini saya dapat dari pembicaraan saya dengan pengurus Harapan Kita di Terminal Bayuangga, Probolinggo bulan April yang lalu dan comment pengurus Harapan Kita Cirebon, mas Eko Rusyana di posting saya tentang Harapan Kita sebelumnya.

Menurut mas Eko Rusyana, jadwal pemberangkatan Harapan Kita Probolinggo-Surabaya-Cirebon adalah sebagai berikut.

Dari Probolinggo (tujuan Cirebon)
10.00
11.14
12.30
13.30
14.15

Dari Surabaya (tujuan Cirebon)
13.00
14.15
15.30
17.30
18.15

Dari Cirebon (tujuan Surabaya-Probolinggo)
10.45
12.00
13.45
14.30
15.15

Bagaimana tampilan armadanya? Berikut ini sedikit update terbaru tentang armada yang digunakan.

Armada pertama berangkat dari Terminal Bayuangga, Probolinggo sekitar jam 10.00. Biasanya Harapan Kita parkir di belakang jalur pemberangkatan Patas Surabaya di Terminal Bayuangga. Seperti kebiasaan, bis ini juga tidak masuk jalur pemberangkatan bis ekonomi tujuan Surabaya, melainkan langsung keluar terminal lewat jalur bebas, dan berhenti sejenak menjelang keluar terminal.

Harapan Kita Cirebon di Terminal Bayuangga

Harapan Kita Cirebon di Terminal Bayuangga

Klik disini untuk baca selengkapnya

Escape (2)

Escape from Routinity (2)
Malang-Surabaya PP
17 November 2012

Setelah sekitar empat jam saya menjadi pengamat di Terminal Bungurasih, jam 15.30 saya memutuskan untuk pulang. Ternyata refreshing saya sebagian besar tidak dihabiskan di dalam bis, tapi malah di Terminal. Ya tidak apa-apa. Yang penting happy.. 😀

Sebenarnya waktu itu masih belum ingin pulang sih, masih ada kisah-kisah di Bungurasih yang ingin saya amati. Ada Harapan Kita juga yang ingin saya nikmati. Tetapi kemudian saya melihat satu bis tujuan Malang yang menarik perhatian. Bis tersebut adalah Medali Mas ATB.

Bis warna merah ini sudah cukup lama jadi primadona di jalur Surabaya-Malang-Blitar. Bis ekonomi yang menurut saya lebih pantas jadi bis Patas, bahkan bis Executive. Karena bis ini bermesin Hino R260 yang masih lumayan baru, dibalut bodi Jetbus buatan Adiputro, ada suspensi udaranya, LCD, AC, bahkan ada toilet. Dan lucunya, armada ATB Medali Mas ini bahkan lebih mewah daripada armada Patas Medali Mas Malang-Surabaya. Kenapa bis baru ini tidak untuk Patas saja? Entah strategi apa yang diterapkan pemilik Medali Mas, tapi yang jelas bis ini saat ini menjadi primadona penumpang.

Medali Mas Surabaya-Blitar

Klik disini untuk baca selengkapnya

Escape (1)

Escape from Routinity (1)
Malang-Surabaya PP
17 November 2012

Akhir pekan ini sebenarnya adalah long weekend bagi kita semua. Terdapat libur peringatan tahun baru Islam di hari Kamis, plus cuti bersama di hari Jum’at, dan Sabtu Minggu yang merupakan hari libur reguler kita. Sangat wajar di masa long weekend seperti ini saya liburan ke suatu tempat yang jauh dari rumah, Bandung misalnya, atau Bali, atau Karimun Jawa, atau Raja Ampat sekalian (#pret). Hehehe..

Tapi long weekend kali ini tidak terasa sama sekali bagi saya. Kalau pekerjaan saya hanya pekerjaan kantor, mungkin saya dapat menikmati long weekend ini. Tapi untuk seseorang yang ingin mendapatkan lebih dari apa yang didapat dari kantor, maka long weekend inilah saat untuk mengerjakannya. Jadi, apa yang saya lakukan di long weekend ini? Kerja !! Bukan sesuatu yang spesial sih. Saya bukan seseorang yang workaholic. Tapi memang saya punya target. Dan long weekend seperti peluang besar untuk memenuhi target-target itu.

Tapi saya jenuh juga. Hahaaha.. Setelah Kamis & Jum’at kerja dan menghadiri beberapa acara, akhirnya saya capek juga. Ingin sekali lepas sejenak dari rutinitas ini. Oke, saya harus melepas penat walaupun hanya sehari. Refreshing. Dan refreshing saya adalah naik bis. Hehehe. Jadi touring kali ini memang serba spontan. Pokoknya berangkat. Tujuannya, itu urusan nanti.

Perjalanan kali ini diawali dengan menitipkan sepeda motor di penitipan tepat di depan pintu masuk bis Terminal Arjosari. Di long weekend seperti ini, cari penitipan motor susahnya setengah mati. Sebagian besar sudah penuh, bahkan di tempat penitipan yang dikelola pribadi di utara terminal. Untung masih dapat tempat. 😀 Selesai menitipkan sepeda, masuk ke terminal.

Terminal Arjosari

Klik disini untuk baca selengkapnya

Kemenangan Jokowi-Ahok memang sangat fenomenal. From zero to hero. Dari pasangan yang dipandang sebelah mata, berubah menjadi pemenang. Saya masih ingat di awal tahun ini ketika bursa calon pemimpin DKI dibuka, partai-partai besar seakan tidak percaya diri menghadapi Fauzi Bowo. Bahkan partai-partai besar itu berebut untuk mengirimkan kadernya menjadi wakil Bang Foke.

Entah kenapa partai-partai besar saat itu begitu tidak percaya dirinya menghadapi Foke. Mungkin mereka tertekan oleh hasil survey lembaga-lembaga survey yang mengklaim Foke memiliki popularitas sangat tinggi dan tidak akan terkalahkan. Padahal, kalau kita mengingat sejarah selama 5 tahun ini, cukup banyak warga yang mengeluhkan kinerja Foke dalam mengatasi berbagai masalah di Jakarta seperti banjir dan macet. Dua tahun yang lalu, seorang teman saya, warga DKI menuliskan status di facebook seperti ini setelah terjebak banjir dan macet sekaligus saat pulang kerja.

Saya tidak tahu siapa yang akan saya pilih pada pilgub DKI mendatang, tapi saya tahu siapa yang tidak akan saya pilih

Sebenarnya kekecewaan masyarakat adalah modal besar bagi penantang untuk menantang incumbent. Tetapi entah kenapa partai-partai tidak percaya diri untuk menghadapi Foke. Golkar, PKS, bahkan PDIP pun seakan berlomba-lomba menyodorkan kadernya untuk jadi wakil Foke. Golkar menyodorkan Priya Ramadhani, PKS menyodorkan Bang Sani, dan PDIP menyodorkan Adang Ruchiatna.
Klik disini untuk baca selengkapnya