Feeds:
Pos
Komentar

Tiga hari yang lalu, tepatnya di hari Sabtu (06/02) saya mendapat kabar dari Ibu Mertua saya bahwa rumahnya didatangi tim PLN yang berjumlah 6 orang pada hari Kamis (04/02) yang bilangnya mau mengecek meteran. Tim PLN tersebut diterima Mama dan Adik ipar saya (yang sekarang jadi artis baru dan beberapa kali masuk koranšŸ˜€ ). Setelah dicek, petugas PLN tersebut menyatakan bahwa meteran rumah loss, kemudian meteran listrik di copot. Selanjutnya petugas PLN menyuruh kami untuk menandatangani berita acara dan mengantarkan meteran listrik (yang katanya loss tersebut) ke PLN Kota Malang.

Tanpa perasaan curiga sama sekali, Mama menyuruh Adik untuk mengantarkan KWH Meter tersebut ke kantor PLN. Di kantor PLN tersebut lah kehebohan dimulai. Setelah menyerahkan KWH Meter ke PLN, Adik disodori tagihan yang besarnya cukup membuat air liur bisa berhenti keluar untuk sementara. Tagihannya sebesar 11 Juta Rupiah. SEBELAS JUTA, Coba bayangin betapa shocknya Adik. Dengan wajahnya yang selalu ceria dan tampak innocent itu, dan dengan pikiran yang entah lagi mikir apa waktu datang ke kantor PLN, tiba-tiba disodori tagihan sebesar SEBELAS JUTA.

Adik tentu tidak dapat mengambil keputusan. Adik pulang memanggil bala bantuan (MamašŸ˜€ ). Kemudian Adik dan Mama kembali ke kantor PLN keesokan harinya, menemui petugas yang sama. Ibu petugas PLN tersebut kembali menjelaskan bahwa KWH meter bermasalah (dianggap melanggar ketentuan) sesuai Berita Acara yang telah ditandatangani. Dan untuk pelanggaran tersebut dendanya sebesar SEBELAS JUTA. Mama yang memiliki ilmu ngeyel negosiasi dengan tingkatan yang lebih tinggi dari istri saya, tentu tidak terima. Mama dengan tegas menyatakan tidak akan membayar denda SEBELAS JUTA tersebut. Tentu saja Mama tidak terima karena kami merasa tidak pernah melakukan kecurangan apapun. Tagihan listrik rutin membayar, dan tagihan listrik rumah Mama perbulan lumayan tinggi lho, sekitar 500 ribu per bulan. Sebagai perbandingan, rumah kontrakan saya & istri, sama-sama menggunakan daya 1300 VA, hanya kena tagihan sekitar 100 ribu perbulan (Ya iyalah, rumah kaya’ hotel cuma dipakai tidur doang. Kalau siang kosong karena kami berdua sama-sama kerja, bahkan kadang hingga larut malam).

Nampaknya Ibu petugas PLN tersebut kewalahan menghadapi Mama (ya iyalah, Mamanya siapaa.. :D). Ibu petugas PLN tersebut meminta kami datang lagi hari kerja berikutnya (Selasa, 09/02, karena hari Senin libur). Keesokan harinya (Sabtu, 06/02), baru sampailah kabar itu kepada saya. Kemudian saya bilang akan mendampingi Mama waktu ke PLN berikutnya (maklum, menantu berbakti ya harus gini ini..).

Saya tentu bertanya-tanya. Kenapa kami dikenai denda 11 juta? Salah kami apa? Penjelasan dari Mama tidak terlalu jelas, karena Mama tidak terlalu mengerti hal-hal terkait teknis PLN. Tanya Adik juga sama. Kemudian saya habiskan malam minggu saya begadang mencari informasi, apa sih yang terjadi. Setelah mencari, saya baru sedikit paham apa yang terjadi. Ternyata kami kena Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL) oleh PLN.

P2TL dilakukan untuk ‘menjewer’ pelanggan-pelanggan nakal yang mengakali meteran PLN sehingga mengakibatkan pelanggan membayar tarif lebih murah dari yang seharusnya. Cukup banyak tulisan-tulisan yang memuat P2TL dan kebanyakan cukup menyeramkan. Kebanyakan akhirnya pelanggan harus membayar denda yang cukup besar. Ada yang 11 juta, 29 juta, 50 juta, bahkan ada yang ratusan juta hingga miliar. Cerita-cerita tentang P2TL dapat dilihat di link-link berikut ini.

Awas! Meteran Listrik Rumah Anda

Terima Kasih PLN Area Cengkareng!

Guru ini Didenda 8,7 Juta Rupiah, Diduga Mencuri Listrik PLN

Petugas P2TL Tak SOP, Korban Diminta Bayar Rp28,7 Juta

Masih banyak lagi artikel-artikel seputar P2TL. Anda juga bisa menyimak aduan tentang P2TL di situs http://www.lapor.go.id yang cukup banyak, tetapi sayangnya belum ada yang memuat metode penyelesaian yang jelas. Kebanyakan korban pengadu malah dengan terpaksa (atau sukarela entahlah) membayar denda tersebut karena tidak ada pilihan lain. Jalan tengah yang ditawarkan PLN biasanya dengan mencicil denda.

Padahal saya yakin tidak semua dari mereka itu benar-benar melanggar. Bahkan ada yang ceritanya, mendekati meteran saja tidak berani karena takut kesetrum, tetapi ketika saat inspeksi tim P2TL dinyatakan melakukan pelanggaran, ya harus membayar denda. Tidak ada kesempatan atau pilihan membela diri. Karena kalau tidak mau membayar ya dicabut listriknya. Siapa coba yang tidak takut listriknya dicabut. Iya kalau layanan lain dimana pelaku usahanya cukup banyak. Nah, pelaku usaha ketenagalistrikan kan hanya PLN. Diblacklist PLN, trus mau langganan listrik ke siapa lagi. Di titik ini lah sepertinya memang konsumen tidak punya pilihan.

PLN-Berita_Acara_P2TL_1

PLN-Berita_Acara_P2TL_2

PLN-Berita_Acara_P2TL_3

Kembali ke kasus saya, semalaman saya mencari dasar hukum penerapan P2TL. Cukup susah mencarinya, karena tidak ada di web PLN atau di web kementrian ESDM. Tetapi akhirnya sayaĀ menemukan juga di sebuah situs file sharing (bayangin, dokumen yang menentukan nasib jutaan pelanggan PLN ini hanya ada di situs file sharing). Kita bahas dasar hukumnya. P2TL dilakukan berdasarkan Keputusan Direksi PT PLN Nomor 1486 K / DIR / 2011. Salinan keputusan direksi tersebut dapat anda unduh di sini. Semalaman saya pelajari Keputusan Direksi tersebut, barulah saya sedikit paham. Jadi ketika ada P2TL, petugas P2TL akan mengklasifikasikan pelanggar menjadi 4, PI, PII, PIII, dan PIV.

PI adalah pelanggaran terkait batas daya. Misalkan anda berlangganan listrik PLN 1300 VA, tetapi entah bagaimana (sengaja (istilahnya dilos) atau tidak) ternyata anda bisa mendapatkan daya di atas 1300 VA, maka anda melanggar PI.

PII adalah pelanggaran terkait pencatatan KWH meter. Pelanggaran terkait pencatatan KWH meter dapat mengurangi tagihan kita ke PLN. Hal ini karena putaran KWH meter akan terhambat sehingga seolah-olah konsumsi listrik kita sedikit. Modusnya juga banyak, misalkan membypass KWH meter, melobangi KWH meter dan sebagainya. Pelanggaran PII inilah yang dendanya besar hingga puluhan juta berdasarkan daya yang terpasang. Hitung-hitungannya ada di dokumen Keputusan direksi yang sudah saya share.

PIII adalah ditemukannya pelanggaran PI dan PII sekaligus. Dendanya ya denda PI ditambah PII.
PIV adalah pelanggaran yang ditemukan pada bukan pelanggan PLN (misal pengguna listrik ilegal yang mengambil langsung dari gardu PLN).

Dari analisa saya, terhadap berita acara P2TL yang saya dapat, sepertinya rumah kami terkena pelanggaran PI dan PII. PI karena arus yang ditemukan melewati 6A (7,96 A) dan PII karena terdapat kabel saluran masuk yang disambung langsung, dst. Hitung-hitungan dendanya berarti:
PI : 6 x 2 x biaya rekening minimum (sekitar 60 ribu) = 720.000
PII : 9 x 720 x daya tersambung (1,3 kVA) x 0.85 x tarif per kWh (sekitar 1400) = 10.740.600.

Hmmmm, jadi dari situ angka SEBELAS JUTA itu berasal. Bukan dari akumulasi kekurangan pembayaran seperti yang kami duga sebelumnya.

Tentu saya merasa aneh dengan prosedur P2TL ini. Begitu mudahkah PLN menetapkan denda yang cukup besar, hanya dari kunjungan sesaat, bongkar-bongkar dikit, kena SEBELAS JUTA deh. Bahkan untuk pelanggan dengan daya yang lebih besar (2200 VA ke atas), dendanya bisa sampai puluhan juta. Saya paham bahwa P2TL ini ditujukan untuk menindak ‘pencuri-pencuri’ listrik PLN. Tetapi kalau metodenya sedemikian mudahnya menentukan kesalahan, berapa banyak pelanggan tidak bersalah yang akhirnya kena denda juga, hanya karena tidak tahu aturan yang berlaku. Saya saja yang Sarjana Teknik Elektro, bahkan Master Teknik Elektro, baru kali ini mempelajari tentang P2TL. Apalagi orang-orang awam di luar sana.

Tetapi kalau kita amati Keputusan Direksi yang jadi landasan P2TL ini lebih lanjut, ternyata seharusnya tidak segampang itu memvonis bahwa pelanggan PLN melakukan pelanggaran dan harus terkena denda. Sebenarnya prosedurnya cukup rumit, dan seringkali prosedur itu tidak diterapkan. Beberapa prosedur yang tidak diterapkan itu antara lain:

Pasal 10 ayat 2a.
Pada saat memasuki persil Pemakai Tenaga Listrik harus bersikap sopan, menunjukkan surat tugas dan menjelaskan maksud serta tujuan pelaksanaan P2TL kepada Pemakai Tenaga Listrik atau yang mewakili;

Ketika petugas P2TL mendatangi rumah kami, mereka hanya mengatakan bahwa akan mengecek meteran. Tentu saja kami menyambut dengan tangan terbuka, dan tidak terlalu mengawasi. Coba kalau mereka bilang dari tim P2TL, bertugas melakukan penertiban terhadap KWH meter kami seandainya ditemukan pelanggaran, dan kalau ditemukanĀ pelanggaran, kami bisa didenda sekian juta rupiah. Tentu perlakuannya akan berbeda. Bahkan petugas tersebut akan kami pantau dengan seksama. Walaupun pahit, dan mungkin akan menyulitkan tim P2TL tapi tentu ini harus disampaikan kepada pelanggan yang dikunjungi tim P2TL. SOPnya mengatakan begitu. Kalau tidak dilakukan kan berarti melanggar SOP.

Pasal 10 ayat 3a butir (3)
Sebelum dan sesudah pemeriksaan dilakukan, petugas melakukan dokumentasi dengan kamera dan/atau video kamera.

Dokumentasi cukup penting. Tentu harus ada dokumentasi ketika Meteran belum dibongkar, ketika dibongkar dan setelah dibongkar. Apabila tidak terdapat segel, ya harus ada foto meteran sebelum dibongkar tidak ada segel. Sebagai pelanggan, anda dapat juga ikut melakukan dokumentasi.

Pasal 10 ayat 6a.
Sebelum meninggalkan lokasi, Petugas Pelaksana P2TL menjelaskan hasil pelaksanaan P2TL kepada Pemakai Tenaga Listrik atau yang mewakili.

Pada kasus kami, setelah selesai melakukan pemeriksaan, petugas P2TL hanya mengatakan, silahkan ke kantor PLN. Tanpa menjelaskan pelanggaran apa yang kami lakukan. Makanya, Adik datang ke kantor PLN tanpa menaruh curiga apa-apa, dan shock ketika di kantor PLN dinyatakan kena denda SEBELAS JUTA.

Pasal 12 ayat 1 huruf b.
Dalam hal P2TL dilaksanakan tidak bersama penyidik, pengambilan barang bukti dilakukan sebagai berikut.
1) dilakukan oleh Petugas P2TL, disaksikan oleh Pengurus RT/RW/Aparat Desa/Kelurahan, dst, kemudian disegel.
2) dibuatkan berita Acara pengambilan barang bukti, dst.

Pada kasus kami, Pemeriksaan dilakukan tanpa penyidik. Tidak ada tanda tangan penyidik di berita acara. Tetapi juga tidak disaksikan oleh Pengurus RT/RW/Aparat setempat. Sehingga dari sisi prosedur pengambilan barang bukti, sudah tidak sesuai SOP. Kemudian barang bukti (KWH Meter) yang seharusnya disimpan petugas P2TL dan disegel, ternyata tidak disegel apapun. Justru kami yang disuruh mengantarkan ke kantor PLN, dan sampai kantor PLN pun tidak disegel. Kalau barang bukti tidak disegel, tentu sudah tidak dapat lagi digunakan sebagai barang bukti, karena ada kemungkinan ketika disimpan oleh pihak PLN, mengalami perubahan keadaan.

Menurut saya, dari sisi SOPnya saja ada masalah. Kalau pemeriksaan tanpa SOP yang benar, tentu keabsahan dari pemeriksaan tersebut (dan penentuan dendanya) bisa digugat. Argumen tentang SOP inilah yang saya siapkan untuk menghadapi petugas PLN nantinya.

Tetapi seandainya nanti argumen saya tentang peanggaran SOP tidak diterima, masih ada pembelaan lain yang akan saya sampaikan. Terkait pelanggaran yang disampaikan di berita acara. Pada berita acara tertulis terdapat sambungan langsung karena KWH meter rusak (sehingga dicurigai listrik yang digunakan tidak tercatat KWH Meter, pelanggaran PII). Lho, kalau KWH meternya tidak mencatat penggunaan listrik di rumah kami, kenapa tagihannya setiap bulan cukup besar? Kalau tagihannya cukup besar, berarti kan petugas pencatat meter mencatat perubahan pada meter yang artinya KWH Meternya berfungsi.

PLN-TagihanBulanan
Terkait penggunaan arus yang berlebih, masih masuk akal sih, tetapi mungkin saya akan minta dilakukan pengukuran ulang. Masa’ sih, pada saat pengecekan (siang hari) dimana hanya ada kulkas, dispenser & rice warmer dan TV yang bekerja dan mungkin satu-dua lampu menyala total arusnya hampir 8A atau berarti pemakaian daya sekitar 1700 Watt?

Kalau pembelaan terkait pelanggaran ditolak lagi, masih ada jalan lain, yaitu pengajuan keberatan yang tertulis di pasal 23 Keputusan Direksi PLN tentang P2TL. Kita dapat mengajukan keberatan kepada GM atau Manajer Area. Metode pengajuan keberatan ini sepertinya tidak begitu tersosialisasikan dengan baik. Terbukti dari tulisan-tulisan yang ada di Internet, kebanyakan pelanggan yang terkena P2TL seperti tidak punya pilihan. Entah metode pengajuan keberatan ini yang tidak disampaikan oleh petugas PLN, atau sudah minta tapi ditolak. Yang jelas, metode Pengajuan Keberatan ini ada di pasal 23 Keputusan Direksi PLN tentang P2TL. Saya sudah berencana mengajukan keberatan dengan bukti-bukti SOP yang tidak diterapkan dengan baik, terutama terkait barang bukti, dan analisa saya terkait pelanggaran yang tertulis di berita acara.

Kalau seandainya nanti pengajuan keberatan kami juga ditolak oleh tim keberatan (yang lucunya dibentuk PLN juga), maka semua prosedur di PLN sudah selesai. Sehingga kami harus membayar. Ya memang proses P2TL ini cukup janggal sebenarnya. Dari proses penyidikan, penuntutan, keputusan, hingga bandingĀ dilakukan oleh PLN. Dan konsumen tidak punya celah sama sekali untuk menggugat. Sebagai perbandingan, proses hukum pidana saja melibatkan banyak pihak yang independen satu sama lain. Mulai dari penyidikan (Polisi), penuntutan (Jaksa), Sidang putusan (Hakim PN), hinggaĀ banding/kasasiĀ (Hakim PT/MA). Tetapi pada kasus P2TL, semua dilakukan oleh PLN. Kepada aktivis-aktivis yang menggugat kewenangan KPK karena menggabungkan penyidikan dan penuntutan, tolong perhatikan kasus P2TL ini. Lebih parah tauu!!

Tetapi berdasarkan UU Perlindungan Konsumen, sebenarnya pelangggan masih memiliki celah, yaitu menggugat ke Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK). Terdapat beberapa kasus P2TL dimana konsumen dimenangkan oleh BPSK. Kasus-kasus tersebut dapat dilihat di sini.

PLN Vs Konsumen, BPSK Menangkan Gugatan

Kasasi Kandas, PLN Kalah Lawan Konsumen Soal Pencopotan Meteran Sepihak

Maka langkah terakhir yang dapat saya lakukan adalah mengajukan gugatan ke BPSK. Tetapi karena langkah ini sudah di luar ranah PLN, mungkin akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Sedangkan ancaman pemutusan pasti akan segera dikeluarkan oleh PLN. Sehingga mungkin nanti denda itu akan kami bayar terlebih dahulu sambil menunggu proses gugatan ke BPSK.

Bahkan, selain ke BPSK, karena begitu sebelnya dengan urusan P2TL ini, saya juga berencana melakukan judicial review terhadap Keputusan Direksi PLN tentang P2TL ini dan Peraturan Menteri ESDM yang menjadi landasannya. Hal ini dikarenakan, Keputusan Direksi tersebut bertentangan dengan UU no. 30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan. Pada pasal 29 ayat (2) UU Ketenagalistrikan, hanya tercantum bahwa pelanggan wajib menjaga keamanan instalasi tenaga listrik MILIK KONSUMENĀ yang dalam penjelasannya dijelaskan bahwa instalasi tenaga listrik MILIK KONSUMENĀ adalah instalasi tenaga listrik SETELAH alat pengukur atau alat pembatas penggunaan tenaga listrik (KWH Meter). Tidak ada kewajiban pelanggan untuk menjaga KWH Meter, karena KWH Meter memang milik PLN. Tetapi, kenapa kalau KWH Meter bermasalah, kenapa pelanggan yang harus membayar denda?. Saya sudah siap menghubungi pengacara kondang David Tobing dan YLKI untuk menyampaikan gugatan saya ini.

(kali ini saya benar-benar nekad.. hahahaha.. ya terlanjur basah, ya sudah mandi sekali..)

Intinya saya sudah siap dengan argumen-argumen yang siap ditembakkan melawan PLN untuk mencegah denda SEBELAS JUTA tersebut. Saya juga akan menolak metode cicilan yang selama ini diajukan sebagai jalan tengah oleh PLN. Karena mencicil ataupun dibayar tunai pada hakikatnya ya sama saja, sama-sama membayar.

—————————–
Hari pertempuran, 09 Februari 2016.

Jam 7.15 saya sudah sampai di kantor PLN Kota Malang, jalan Basuki Rachmat. Tinggal menunggu Mama dan Adik. Kami janjian ke kantor PLN jam 7.30 sesuai anjuran Ibu petugas PLN yang menemui Mama dan Adik hari Jum’at kemarin.
Sempat ditanya security, ada keperluan apa, saya menjawab mau membayar listrik (daripada menjelaskan panjang lebar). Dengan senyum Pak Security menjawab, sekarang PLN Kota sudah tidak melayani pembayaran listrik. Membayarnya di Bank atau Kantor Pos. “Oh gitu ya, baru tau..”, jawab saya. Kemudian saya mundur duduk-duduk di parkiran dengan alasan menunggu Mama.

15 menit menunggu, ternyata Mama tidak datang juga. Kemudian telpon Mama, eh ternyata Mama masih di rumah. Eaaaaaaa,, mungkin ini karma yang harus saya terima karena sering molor waktu janjian dengan mahasiswa.

30 menit menunggu atau tepatnya jam 8.00, akhirnya Mama dan Adik datang. Kami kemudian diarahkan security ke sebuah ruangan, dimana kembali ditemui oleh Ibu Petugas PLN yang menemui Mama dan Adik sebelumnya. Kemudian saya berusaha memantapkan hati dan membaca mantra-mantra do’a agar ditumbuhkan keberanian dalam menyampaikan semua argumen saya.

Kemudian kami duduk bertiga, Saya, Mama dan Ibu petugas PLN. Adik tidak kebagian kursi sehingga menunggu di luar. Saat-saat yang menegangkan pun terjadi. Kemudian Ibu Petugas PLN tersebut menyampaikan,

“Untuk dendanya yang sekian juta kemarin itu tidak jadi dikenakan. Hanya dikenakan penyesuaian sebanyak 14 KWH, atau 22 ribu”

“HAAAAAAAA?? SUDAH GITU AJAAAAA YA?”, pergulatan hati saya seakan tidak percaya.

Saya sudah mempelajari Keputusan Direksi PLN dan menyiapkan argumen-argumen ‘maut’ hingga tiga hari harus mengurangi jam tidur saya, eh ternyata hanya begitu saja keputusannya. Tapi terlepas dari usaha saya yang tidak berguna, keputusan tersebut tentu wajib disyukuri karena kami sudah terbebas dari denda SEBELAS JUTA.

Kemudian Ibu Petugas PLN tersebut menjelaskan, bahwa beliau sendiri juga bingung dengan berita acara yang tertulis. Kalau KWH Meter kami rusak (atau dirusak dengan sengaja), kenapa setiap bulan masih membayar tagihan PLN yang jumlahnya cukup besar. Ternyata pemikiran saya juga dipikirkan oleh beliau. Sehingga beliau memutuskan kami tidak terkena denda yang besar. Terkait pelanggaran batas arus, entah kenapa beliau tidak mempermasalahkan lagi. Akhirnya, Tagihan Susulan (TS) yang dikenakan hanya penyesuaian sebanyak 22 ribu tersebut.

Setelah Mama membayar 22 ribu tersebut, kami mengucapkan terima kasih dan keluar dari kantor PLN. Pergulatan batin saya berhari-hari berakhir dengan anti klimaks. Tetapi apapun itu, tentu kami harus tetap bersyukur. Alhamdulillah, Ya Alloh..

—————————-
Kesimpulan:

Berdasarkan pengalaman saya, PLN cukup obyektif mengkaji permasalahan ini. Tidak hanya berdasarkan pengamatan di lapangan tetapi juga dicocokkan dengan tagihan bulanan yang kami bayarkan. Tetapi mungkin ada rekan-rekan yang lain yang mengalami pengalaman yang kurang mengenakkan dengan P2TL dan harus membayar denda yang besar. Semoga analisa saya di atas dan peraturan-peraturan terkait P2TL dapat menjadi informasi ketika anda terkena P2TL.

Dari kejadian ini saya juga menyimpulkan bahwa pengamanan terhadap KWH Meter penting kita lakukan. Karena petugas P2TL dapat datang kapan saja ke rumah kita. Sebelumnya saya berencana menggugat kewajiban konsumen menjaga KWH Meter ini, tetapi karena saya tidak jadi kena denda yang besar, maka tentu saya tidak punya legal standing lagi untuk mengajukan judicial review Keputusan Direksi PLN dan Permen ESDM yang melandasinya. Mungkin ada yang berminat mengajukan, silahkan. Tetapi selama peraturan ini belum dicabut, maka kita harus melakukan pengamanan terhadap KWH Meter kita.

Pengamanan ini krusial ketika misalnya, kita baru saja membeli rumah. Atau rumah kita baru saja selesai dikontrak orang lain. Segeralah menghubungi PLN (Hotline 123 atau kantor PLN terdekat) untuk mengecek KWH Meter anda, karena kalau tiba-tiba anda terkena P2TL (yang bisa datang kapan saja) dan ditemukan pelanggaran, maka pemilik/penghuni sekarang lah yang harus bertanggung jawab. Kalau pemilik/penghuni sekarang tidak mau bertanggung jawab ya bisa diputus listriknya. Oleh karena itu, selagi pemilik/penghuni lama masih bisa dikontak, segeralah periksa KWH Meter anda. Jika bermasalah, tuntutlah pemilik/penghuni lama tersebut.

Demikian sharing pengalaman saya tentang P2TL, semoga mekanismenya terus diperbaiki sehingga PLN semakin efisien.

Satu hal yang mengganjal pada pikiran saya pada serangan teroris kali ini adalah “kok gitu ya?”. Pola serangan teroris kali ini cukup berbeda dengan serangan-serangan sebelumnya. Biasanya serangan teroris di Indonesia dilakukan dengan bom berdaya ledak tinggi, dan setelah bom meledak semua yang terlibat langsung melarikan diri, meninggalkan korban yang tak berdaya. Tetapi kali ini serangan dilakukan dengan bom berdaya ledak rendah (walau banyak), dan setelah serangan mereka masih berdiam di tempat, dan malah muncul dengan pistol dan menembaki warga, dan tidak pakai topeng pula.

Mari kita hitung efektifitas menyerang warga dengan pistol di ruang terbuka. Tentu efeknya tidak akan fatal. Belum lagi resikonya pasti tertangkap karena banyak CCTV atau HP warga yang siap mengabadikan wajah si teroris. Entah dia bodoh atau mungkin ada sesuatu yang membuatnya seperti itu. Efeknya pun jelas. Si teroris jadi bulan-bulanan polisi. Beberapa ditembak mati, dan beberapa mati bunuh diri. Kenapa mereka tidak kabur saja setelah bomnya meledak. Sekali lagi, yang jadi pertanyaan apakah mereka bodoh atau gimana.

Teroris

Kalaupun mereka tidak bodoh, maka menurut saya ada dua kemungkinan. Pertama, kelompok teroris ini sudah sedemikian “hopeless”nya karena sudah banyak anggotanya yang ditangkap Polisi, sehingga mereka tidak berhitung tentang efektifitas sebuah teror, yang penting melakukan teror dan menunjukkan kepada dunia bahwa mereka masih ada. Tidak masalah belum bisa buat bom dengan daya ledak tinggi, belum punya anggota yang terampil, yang penting muncul dulu.

Kemungkinan kedua, ini yang tidak kita harapkan, bahwa serangan tadi siang hanya sekedar “percobaan” saja. Dari serangan yang terkesan bodoh dan tanpa perencanaan tersebut, sebenarnya teroris merencanakan sesuatu yang lebih besar. Dan serangan tadi hanya sekedar “uji coba” saja. Dari “uji coba” tersebut, mereka bisa mempelajari banyak hal, misalnya, berapa lama waktu yang dibutuhkan Polisi untuk datang ke TKP, bagaimana pola pergerakan warga sekitar jika ada insiden seperti ini, bagaimana metode kabur yang efisien setelah melakukan serangan, dan sebagainya.

Tentu apabila kemungkinan kedua yang terjadi, ini sangat berbahaya. Pergerakan warga sekitar jika ada insiden sebenarnya cukup beresiko. Sudah jadi kebiasaan orang Indonesia apabila ada kejadian, maka akan berlomba-lomba menonton. Kemudian foto selfie di TKP. Kemudian upload di Media Sosial. Penjual sate, kacang goreng, krupuk, kopi, dan sebagainya pun ikut numpang cari rejeki. Sisi positif dari kebiasaan ini adalah seolah-olah memberi pesan kepada teroris, bahwa kita tidak terpengaruh dengan serangan teror. Hashtag #KamiTidakTakut jadi trending topic di twitter dan mendapat apresiasi dari seluruh dunia. Seolah-olah orang Indonesia ingin bilang kepada teroris-teroris itu, “Goblok, Lu” atau “F*CK You, Terrorists, We still survive !”. Tetapi bagaimana jika bom yang pertama (yang berdaya ledak rendah) hanya umpan saja. Umpan agar orang-orang datang ke lokasi, untuk selanjutnya diledakkan lagi bom kedua yang lebih dahsyat.

CYr9a_MUwAA8eBL

Pernah nonton film The Kingdom (2007)? Film tersebut bertema serangan bom di Arab Saudi. Serangan bom pertama dilakukan dengan bom skala rendah. Kemudian warga berdatangan ke lokasi, termasuk aparat, tenaga medis, dsb. Tidak ada yang menyadari bahwa serangan yang sebenarnya baru akan terjadi. Bom kedua yang lebih hebat diledakkan dari dalam sebuah Ambulan yang semua orang pasti akan mengira ambulan tersebut untuk evakuasi korban serangan bom pertama. Tentu efeknya jauh lebih dahsyat dari serangan bom pertama. Efeknya juga lebih dahsyat dibandingkan dengan apabila bom yang kedua diledakkan bersamaan dengan bom pertama.

Tetapi bukan berarti kemudian kita harus lari terbirit-birit ketakutan jika ada serangan teror. Hashtag #KamiTidakTakut adalah sebuah upaya positif yang menumbuhkan harapan bahwa kita akan tetap kuat dan semakin kuat setelah kejadian ini. Namun, #KamiTidakTakut juga bukan buat sombong-sombongan. Seolah-olah kita kuat dan hebat menghadapi teroris dan tidak akan ada yang dapat mengalahkan kita. Ancaman itu (masih) ada, dan kita tidak tahu seberapa besar ancaman tersebut. Menurut saya, dibalik #KamiTidakTakut kita harus tetap waspada. Waspada dengan ancaman lain yang mungkin saja akan muncul secara tidak terduga. Untuk yang di dekat lokasi kejadian, saya menyarankan tidak mendekati lokasi sebelum semuanya dipastikan aman oleh aparat berwenang. Karena kita tidak tahu mungkin saja ada skenario yang direncanakan teroris-teroris itu.

Duka saya yang mendalam kepada semua korban luka dan meninggal pada insiden hari ini. Semoga kejadian ini tidak terulang lagi di negara kita. Sekali lagi, dibalik #KamiTidakTakut, kita harus tetap waspada.

Singapore-Albert-Bernard

Ini soalnya aja yg kebangetan.

Si Cherryl ngajak main tebak-tebakan. Tebak-tebakannya kira-kira begini:

Cherryl (C): Albert & Bernard, ayo tebak ulang tahunku. Yang tahu nanti dapat hadiah.. Ulang tahunku ada di antara tanggal-tanggal berikut ini:

15 Mei 16 Mei 19 Mei
17 Juni 18 Juni
14 Juli 16 Juli
14 Agustus 15 Agustus 17 Agustus

Albert (A): Wah, aku gak tau, Cher. Ada petunjuk lain gak?
Bernard (B): Iya, nih, Cher. Ada petunjuk lain?

C: Ya udah, buat Albert tak kasih petunjuk lagi. Bulannya bulan ini lho (sssst…sst..ssst.., sambil bisik-bisik ke Albert).

B: Cher, kok Albert aja yg dikasih tahu, aku juga dong..

C: Oke, buat Albert tak kasih petunjuk juga. Tanggalnya tanggal ini lho (sssst…sst..ssst.., sambil bisik-bisik ke Bernard)

Kemudian Bernard dan Albert berpikir keras, mengeluarkan pernyataan-pernyataan, hingga akhirnya mereka tahu tanggal ulang tahun Cheryl. Trus dari pernyataan-pernyataan Bernard & Albert, kita disuruh nebak juga.

Menurut saya, bagian tersulit dari memahami soal di atas adalah masalah sudut pandang. Ada tiga sudut pandang di sini, yaitu sudut pandang Albert yang hanya tahu bulannya, kemudian sudut pandang Bernard yang hanya tahu tanggalnya, dan terakhir, sudut pandang kita (pembaca) yang tidak tahu apa-apa. Sebelum kita membahas, perhatikan fakta berikut.

  • Andaikan Bernard diberi tahu tanggalnya tanggal 18, dia akan langsung tahu bahwa ultahnya adalah 18 Juni (tanggal 18 satu-satunya yg ada di daftar).
  • Andaikan Bernard diberi tahu tanggalnya tanggal 19, dia akan langsung tahu bahwa ultahnya adalah 19 Mei (tanggal 19 satu-satunya yg ada di daftar).

Tapi kemudian Albert bilang di percakapan pertama, “aku yakin Bernard juga tidak tahu”.
Berarti si Cheryl bilang ke Albert bulannya bukan Mei dan Juni. Sebab kalau bulannya Mei dan Juni, ada kemungkinan si Bernard langsung tahu (kalau Bernard diberi tahu tanggalnya 18 misalnya).

15 Mei 16 Mei 19 Mei
17 Juni 18 Juni
14 Juli 16 Juli
14 Agustus 15 Agustus 17 Agustus

Perkataan Albert ini jadi petunjuk berharga buat Bernard. Dari perkataan Albert, Bernard juga bisa menyimpulkan bahwa, pasti bulannya Juli atau Agustus. Kemudian Bernard bilang, “Sekarang aku tahu bulannya (Bernard sekarang tahu Ultahnya Cherryl)”.

Pada titik ini, sebenarnya Albert belum tahu tanggalnya. Tapi karena Bernard bilang sekarang dia tahu, ini merupakan petunjuk buat Albert. Berarti tanggal yang diketahui Bernard bukan tanggal 14. Karena kalau tanggal yang diketahui Bernard tanggal 14, pasti dia masih bingung menentukan Juli atau Agustus. Tapi karena Bernard langsung tahu, berarti tanggalnya bukan 14.

15 Mei 16 Mei 19 Mei
17 Juni 18 Juni
14 Juli 16 Juli
14 Agustus 15 Agustus 17 Agustus

Kemudian Albert bilang “Oh, aku juga tahu sekarang”. Petunjuk Albert ini kemudian berguna buat kita (yang belum tahu apa-apa), bahwa Albert sudah bisa menyimpulkan. Kemungkinannya kan tinggal 16 Juli, 15 Agustus, dan 16 Agustus. Kalau dari tiga kemungkinan tadi Albert sudah bisa menyimpulkan, berarti pasti bulan yg diberitahu Cheryl bukan Agustus. Karena kalau bulannya Agustus, Albert pasti masih bingung menentukan 15 Agustus atau 16 Agustus. Oleh karena itu, bulannya pasti bulan Juli, yang hanya tinggal satu tanggal disitu, 16 Juli.

15 Mei 16 Mei 19 Mei
17 Juni 18 Juni
14 Juli 16 Juli
14 Agustus 15 Agustus 17 Agustus

Pertanyaannya sekarang, kalau Albert atau Bernard bisa jawab, trus hadiahnya apa? Trus kalau sekarang kita juga tahu, kita dapat apa? Hanya Cheryl yang bisa menjawabnya.šŸ˜€

Negaraku Akan Baik-Baik Saja

Pertarungan Pemilihan Presiden 2014 ini memang cukup keras. Membuat rakyat Indonesia seperti dihadapkan pada dua pilihan yang ekstrim. Seakan-akan kalau salah memilih maka Indonesia akan hancur. “Oleh karena itu, pilih kubu saya”, kira-kira itulah slogan kampanyenya. Kubu Prabowo bilang, kalau pilih Jokowi, negara akan menjadi antek asing, komunis, Kristen, Amerika, China, Syiah, bahkan Israel sampai Iluminati. Sementara di kubu Jokowi bilang, kalau pilih Prabowo, negara akan menjadi negara otoriter seperti jaman orde baru. Akan ada penculikan dan sebagainya.

Akhirnya saya pilih Jokowi..

Kenapa?

Bukan karena saya takut diculik. Takut juga sih.šŸ˜€ Tapi saya lebih melihat Jokowi merupakan wujud dari kerinduan saya akan pemimpin yang merakyat. Walaupun katanya sifat merakyat Jokowi itu rekayasa, pencitraan, atau apalah, saya kurang peduli. Setidaknya Jokowi mencerminkan pemimpin yang merakyat dan mengkampanyekan sifat merakyat yang harusnya ditiru semua pejabat di negeri ini. Entah itu rekayasa atau bukan. Saya sudah bosan dengan pejabat yang selalu minta dihormati, pejabat yang kalau upacara rakyatnya harus menunggu 1-2 jam dijemur di lapangan sebelum akhirnya pejabat tersebut datang juga. Saya bosan dengan pejabat yang suka nutup jalan kalau mau lewat. Saya bosan dengan pejabat yang cuek saja melihat aparat pemerintahannya kerja asal-asalan, jam 11 atau jam 12 loket pelayanan sudah tutup (padahal kan seharusnya PNS masuk sampai jam 4 ya..?), dsb. Sifat-sifat pejabat seperti itu tidak tampak dari kepribadian Jokowi. Itulah kenapa saya pilih beliau.

Karena memilih Jokowi, saya sudah siap kalau ternyata Jokowi nanti terbukti antek Amerika, China, Komunis, Syiah, Israel bahkan sampai Iluminati. Meskipun kadar keimanan saya masih tipis, tapi kalaupun Jokowi antek Kristen, Syiah atau Komunis, saya yakin tidak akan membuat saya akan meninggalkan Islam sebagai agama saya. InsyaAlloh.

Klik disini untuk baca selengkapnya

An-Nur-26

Terjemahan:
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). (Q.S. An-Nuur ayat 26)

Sedikit cerita dibalik turunnya ayat ini, ayat ini turun ketika istri Rasulullah SAW, yaitu Aisyah, RA dituduh tidak setia kepada Rasulullah. Tuduhan ini dilontarkan karena Aisyah, bersama seorang sahabat, sempat terpisah dari rombongan Rasulullah. Kemudian muncullah tuduhan, atau kalau di jaman sekarang namanya gosip, bahwa Aisyah ada apa-apa dengan sahabat tersebut. Aisyah sempat sedih, dan berdo’a kepada Alloh mohon pertolongan. Akhirnya turunlah ayat tersebut bersama ayat-ayat yang lain (Q.S An-Nuur ayat 11-26) yang intinya melarang kita untuk gampang menuduh orang lain berbuat zina. Harus dibuktikan dulu tuduhan tersebut oleh 4 saksi, dsb.

Tapi saya hanya ingin fokus di ayat 26 ini saja.

Logika dari ayat ini adalah (saya tuliskan dalam logika matematika biar seru :D)

Premis Mayor:
Seorang yang baik akan mendapatkan jodoh yang baik. Seorang yang keji akan mendapatkan jodoh yang keji.

Premis Minor:
Rasulullah SAW adalah orang yang paling baik.

Maka kesimpulannya adalah, jodoh dari Rasulullah pastilah wanita yang baik pula. Sehingga Aisyah adalah wanita yang baik dan tidak akan selingkuh dengan laki-laki lain.

Jadi antara kita dan jodoh kita pastilah ada kesetaraan secara kumulatif. Tidak akan jodoh kita lebih baik dari kita atau lebih buruk. Karena kalau lebih buruk dari kita, pasti Alloh akan memilihkannya orang lain yang lebih buruk dari kita. Atau kalau ia lebih baik, maka Alloh juga akan memilihkannya orang lain yang lebih baik dari kita. Saya pernah mendengar satu ungkapan bahwa jalan untuk mendapat jodoh yang baik yang pertama adalah terus-menerus memperbaiki diri. Dengan terus menerus memperbaiki diri hingga ke suatu level, InsyaAlloh kita akan diberi jodoh yang baik pada level tersebut juga.

Nah, kemudian ketika sebuah rumah tangga berjalan, muncullan ketidakpuasan-ketidakpuasan. Hingga kemudian terbersit di pikiran hal-hal yang bikin galau. Misalnya ada seorang suami yang berpikiran begini..

“Kok bisa sih istriku ini gak berkualitas blas. Gak bisa dandan, gak bisa masak, gak bisa ini.. itu.. Katanya laki-laki yang baik untuk wanita yang baik. Aku sudah baik, tapi kenapa istriku seperti ini?”

Atau ada juga istri yang berpikirian begini ..

“Duh, suamiku ini gajinya kenapa kecil, Ngerjain pekerjaan berat yang berkaitan dengan perbaikan rumah macam memperbaiki keran air, talang, genteng juga ga bisa. Suami kok gak bertalenta banget sih. Padahal aku kan istri yang baik. Cantik, solehah, pinter masak, dsb”

Hmmmmmm,,, saya akan membahas sambil menghela nafas panjang….

Menurut saya, itu adalah komentar seorang suami dan istri yang tidak tahu diri. Hehehe. Ge eR (Gede Roso) banget sih. Yakinkah dirimu sebaik itu. Kalau merujuk dari Surat Ar-Rum ayat 26 itu jodoh kita kan setara. Kalau yang kelihatan dari suami/istri kita yang jelek-jelek saja, pasti dalam diri kita juga ada yg jelek-jelek tetapi tidak disadari. Karena kalau tidak setara, pasti tidak dijodohkan oleh Alloh.

Atau ada juga keluhan seperti ini,

“Aku sudah setia, merawat suami, merawat anak-anak, mengurus rumah, tapi kenapa suamiku masih selingkuh juga”

Atau sebaliknya

“Aku ini cari uang pontang-panting siang-malam buat siapa lagi kalau bukan buat istri, tapi waktu aku kerja, eh malah istriku selingkuh”

Wah, ini kasus berat. Macam di sinetron.
Tetapi berhentilah saling menyalahkan, seakan diri sendiri yang paling suci. Sekali lagi, Alloh menciptakan jodoh kita setara. Jangan-jangan ketika pasangan kita selingkuh, kita dulu pernah selingkuh duluan. Atau berniat selingkuh tapi belum keturutan. Oleh karena itu selingkuhlah sebelum kamu diselingkuhi..šŸ˜€ (Ini ajakan sesat). Tapi kalaupun itu terjadi (semoga tidak) langkah apa yang harus dilakukan, mohon maaf saya tidak tahu jawabannya karena belum pernah mengalami.

Tetapi tujuan tulisan ini tidak bermaksud untuk memahami latar belakang kenapa seseorang selingkuh. Pengennya membahas diluar konteks itu. Intinya adalah saya ingin mengajak menghargai apapun yang dimiliki jodoh kita. Karena ia pasti setara dengan kita. Kalau tidak setara, pasti tidak dijodohkan oleh Alloh. Mungkin istri kita punya kelemahan, tapi ia pasti punya kelebihan. Suami juga pasti banyak kelebihan (uang), tapi sadar diri dong, kita juga banyak kekurangan lho. Jadi saling menghargai saja. Kita menikahi seseorang itu kan satu paket. Ya cantiknya, pinternya, sekaligus cerewetnya & judesnya.

Jadi jangan khawatir, Istriku. Terlepas dari segala kekuranganmu, engkau adalah wanita yang tepat untukku. Karena Alloh telah menjodohkan kita. Dan juga suamimu ini, jelek-jelek & tukang tidur gini juga pasti laki-laki yang tepat untukmu.šŸ˜€

Menjadi Anggota Aliran Penyembah Pesut

(Review Film pendek Malam Minggu Miko 2)

 

Aliran penyembah pesut? Apa lagi ya itu. Hehehe.. Tulisan ini terinspirasi oleh film pendek Malam Minggu Miko 2 yang menceritakan Sekte Penyembah Pesut. Pada film tersebut, Miko (diperankan oleh Raditya Dika)sedang menjalin hubungan dengan Rachel (diperankan oleh Tamara Tyasmara) yang merupakan anggota Aliran Penyembah Pesut.

Adegan lucu yang ditampilkan dalam film tersebut adalah ketika Miko berniat merayakan 6 bulan dengan Rachel, tapi saat itu Rachel tengah dalam pertemuan aliran penyembah pesut yang diikutinya. Menurut Rachel, pesut adalah lambang kehidupan, dengan mata mereka yang elegan dan badan mereka yang chubby-chubby menggemaskan. Kemudian Rachel mengajak Miko untuk menonton video sejarah aliran penyembah pesut. Hingga akhirnya Rachel mengajak Miko untuk menjadi anggota aliran penyembah pesut tersebut.

Pada akhir cerita, Miko menceritakan kalau dia putus dengan Rachel. Hikmahnya adalah, aliran penyembah pesut atau aliran-aliran sesat lain mungkin merekrut anggota sebanyak-banyaknya dengan menjalin hubungan dekat (pacaran) dengan calon korban. Karena saat pacar menawari untuk ikut aliran tertentu, dengan alasan cinta, maka biasanya si korban mau saja diajak ikut aliran tersebut. Karena bila bukan diajak oleh orang yang dekat dengan kita, biasanya tentu kita akan menolak ajakan-ajakan aneh seperti itu. Oleh karena itu, waspadalah..waspadalah..

Kerja..Kerja..Kerja..

Kerja

Kerja

Kerja

Untuk Indonesia Untuk (calon) keluarga

 

*bukan kampanye Dahlan Iskan*