24-25 Oktober 2010
Bandung-Malang with Pahala Kencana
Untuk pertama kalinya setelah dua tahun lebih, saya naik bis malam Pahala Kencana Bandung-Malang, alias tidak lagi estafet atau oper-oper seperti biasanya. Pahala Kencana saya pilih karena hanya ada dua PO yang menyediakan bis Bandung-Malang yaitu Pahala Kencana dan Kramat Djati. Kramat Djati sudah lama tidak menjadi pilihan saya meskipun tiketnya lebih murah dari PK. KD bertarif 160 ribu, sedangkan PK bertarif 190 ribu. Hanya 30 ribu bedanya, tidak banyak. Tetapi pelayanannya cukup berbeda jauh. Jika penumpang PK bisa terbuai nyenyak di ayunan lembut sasis Mercedes Benz OH 1525, penumpang KD harus bertoleransi dengan kerasnya suspensi Hino RG lawas. Body KD Malang juga memiliki sekat di depan yang kurang saya sukai karena menghalangi pandangan saya ke depan.
Sesungguhnya armada asal-asalan KD ini bukanlah armada asli untuk tujuan Malang. Dahulu, Bandung-Malang mendapat dua armada baru N01 dan N02 Hino RK8, berbaju AP New Travego dan dilengkapi Air Suspension. Namun, kemunculan KA Malabar menghantam eksistensi KD Bandung-Malang, sehingga jalur Bandung-Malang dilikuidasi. Bis N01 dan N02 sekarang dipakai untuk tujuan Denpasar. Jalur Bandung-Malang akhirnya disediakan dengan memperpanjang bis Bandung-Surabaya hingga ke Malang. Tarifnya pun dipangkas dari 220 ribu menjadi 160 ribu.
Di sisi lain, Pahala Kencana masih mempertahankan sekuat tenaga armada Bandung-Malangnya. PK juga menurunkan harga tiket dari 220 ribu menjadi 190 ribu agar bisa bersaing dengan KA Malabar. Armada yang disediakan pun masih lumayan baru, yaitu MB 0H 1525. Saat awal kemunculan KA Malabar, PK benar-benar berani rugi. Ketika saya mengantar ayah saya pulang ke Malang dengan PK di pertengahan bulan Mei, penumpang PK kala itu hanya 6 orang. Tetapi, konsistensi PK mulai membuahkan hasil. Saat ini penumpang PK Bandung-Malang mulai meningkat. Berbeda dengan KD yang masih membekukan jalur Bandung-Malangnya.
Perjalanan kali ini saya lakukan bersama kedua orang tua saya, setelah beliau berdua datang ke Bandung untuk menghadiri wisuda saya di kampus gajah. Tiga tiket bernomor 3B, 3C, dan 3D, masing-masing seharga 190 ribu saya pesan beberapa hari sebelumnya dari agen PK Jalan Riau. Pilihan saya memang bukan bangku keramat. Ya iyalah, bawa orang tua. Masa’ dipaksa ikut nonton balapan malam di pantura. Hehe.
Perjalanan dimulai sekitar 14.00. Dengan menumpang taksi Bluebird, kami bertiga menuju terminal Cicaheum di tengah hujan deras yang melanda kota Bandung. Sesampainya terminal Cicaheum, sopir taksi saya minta untuk masuk ke dalam terminal dan berhenti tepat di belakang bis PK yang sedang parkir. Sebelum kedua orang tua saya turun, saya turun duluan untuk melihat apakah bis tersebut yang akan kami naiki. Tetapi setelah saya turun dari taksi dan melihat papan jurusan bis, ternyata bis tersebut bertujuan ke Denpasar. Saya beri isyarat sopir taksi untuk mengarahkan taksi ke bis Pahala Kencana lainnya di jalur pemberangkatan.
Ibu saya turun dari taksi dan segera menuju ke bis di tengah hujan. Sekumpulan anak-anak pembawa payung mengerubungi Ibu dan menawarkan jasanya. Sedangkan saya dan Ayah mengurus koper di bagasi taksi dan membayar taksi. Saat akan naik bis, ada anak pembawa payung meminta uang. Ayah saya memberinya 5 ribu sebagai balasan karena ia telah memayungi Ibu saya. Ternyata, setelah dibicarakan di atas bis, Ibu saya tidak meminta jasa siapapun untuk memayunginya, yang artinya anak tadi hanya berpura-pura. “Ya sudah, hitung-hitung amal”, ucap Ayah merelakan.
Baru beberapa saat di atas bis, kami menyadari bahwa masih ada satu tas yang tertinggal di taksi. Sebuah tas yang tertinggal di jok belakang. Sudah terlambat untuk mengambilnya kembali karena taksi tersebut tentu sudah meninggalkan terminal Cicaheum. Sempat kebingungan, saya pun menelpon call center taksi Blue Bird untuk menanyakan kejelasan tas saya. Operator Blue Bird pun menanyakan nomor taksi yang saya naiki yang saya jawab tidak tahu karena memang tidak ingat. Kemudian operator menanyakan lagi nama sopir taksi yang saya naiki, yang juga saya jawab tidak tahu. Kemudian operator menanyakan saya naik dari mana dan turun di mana, dan berapa ongkos yang saya bayar. Pertanyaan kali ini baru bisa saya jawab. Selanjutnya, operator mengatakan akan mencarikan tas kami.
14.45
Mendekati jam keberangkatan, checker yang juga agen PK Cicaheum naik ke atas bis dan mengecek penumpang. Setelah dicek, semua penumpang ternyata telah berada di atas bis. Oleh karena itu, bis diberangkatkan walaupun jam belum menunjukkan pukul 15.00. Bis berangkat disambut kemacetan khas di depan Terminal Cicaheum. Bis berjalan perlahan keluar terminal, menyusuri Ujungberung, Cibiru hingga Cileunyi. Di depan kampus IPDN bis berhenti di depan agen PK.
Di Jatinangor, atau sekitar 30 menit setelah saya menyampaikan kehilangan tas ke operator taksi Bluebird, operator menelpon saya dan menyatakan tas saya telah ditemukan. Sungguh proses penemuan yang cukup cepat mengingat saya tidak memberikan data lengkap tentang taksi yang saya naiki. Inilah kelebihan taksi Bluebird yang semua armadanya dilengkapi dengan GPS dan selalu terhubung ke pusat. Karena sudah tidak mungkin untuk mengambilnya, saya minta agar tas saya dititipkan di pool Bluebird agar diambil adik saya keesokan harinya.
16.00
Memasuki jalanan di daerah Tanjungsari, Sumedang. Hujan masih rintik-rintik membasahi jalan. Lalu lintas lumayan padat sehingga bis tidak bisa melaju maksimal.

Selepas Tanjungsari, PK melewati Cadas Pangeran yang berliku-liku. Cadas Pangeran cukup sepi hari itu, padahal biasanya kemacetan terjadi akibat truk-truk yang tidak kuat mendaki tanjakan di Cadas Pangeran. Sekitar 30 menit bis ini menyusuri lika-liku Cadas Pangeran hingga sampai di kota Sumedang sekitar pukul 17.00. Di kota Sumedang, bis ini melewati Sahabat Patas nyaris tanpa perlawanan.




18.00
Memasuki gerbang tol Plumbon. Ternyata PK Malang ini tidak sekencang armada-armada Muria Raya, walaupun tidak bisa juga dibilang lemot. Masih lumayan kencang walaupun beberapa bis malam melewati PK ini dari kiri dan kanan. Selepas tol Kanci, PK belok kiri ke arah Losari, yang berarti tidak lewat Tol Pejagan. Alasannya adalah PK harus berhenti di sebuah rumah makan di Kanci untuk servis makan. Pukul 18.30, sampailah kami di RM Ramah Tamah, tempat semua penumpang mendapat servis makan. Tidak lama setelah PK Malang tiba di RM ini, datanglah satu bis PK Bandung-Denpasar yang tadi berangkat di belakan PK Malang ini.

Menu yang disajikan cukup bergizi, yaitu dengan sepotong ayam goreng, semangkuk sayur dan krupuk semaunya. Di Rumah makan ini pula kami sempatkan untuk sholat Maghrib + Isya’


19.30
Selesai menikmati hidangan makan malam, banyak penumpang yang telah menunggu di pinggir bis menanti bis berangkat. Meskipun demikian kru masih belum nongol juga. Sepertinya kru PK ini cukup santai, seperti tidak dikejar waktu. Setelah beberapa lama menunggu, ketiga kru naik ke bis tanda PK tujuan Malang siap diberangkatkan. Kali ini, kendali beralih ke sopir kedua.
Selepas keluar dari RM, sempat terjebak macet di sekitar pembangunan Flyover Gebang. Hanya saja kemacetan untuk ruas menuju Brebes tidak separah kemacetan ruas menuju Cirebon. Hanya sekitar 10 menit, bis ini terjebak di kemacetan. Selanjutnya, bis langsung melaju ke arah Brebes tanpa hambatan berarti.
Tidak banyak yang bisa saya ceritakan di perjalanan ini karena saya lebih banyak tertidur. Ya beginilah kalau naik bis malam Bandung-Malang langsung. Bawaannya pengen tidur melulu. Juga karena tidak banyak fenomena yang terjadi. Tentu beda dengan mode estafet yang biasa saya lakukan.
22.00
Satu penumpang turun di Pekalongan. Ternyata bis ini tidak hanya membawa penumpang tujuan Malang, tetapi juga membawa penumpang yang bertujuan di berbagai kota sepanjang rute Bandung-Malang. Penumpang tujuan Pekalongan ini adalah penumpang terdekat yang dibawa bis ini. Selanjutnya ada beberapa penumpang lain yang turun di Semarang, Kudus, Demak, Tuban, hingga Gresik. Strategi baru yang diberlakukan PK untuk menghadapi persaingan dengan KA Malabar.
24.00
Sampai di Semarang. Sempat menyaksikan pergantian driver kembali. Cukup mengherankan karena biasanya pergantian driver dilakukan di RM Taman Sari Tuban. Mungkin sopir kedua terserang rasa kantuk sehingga meminta digantikan sopir pertama.
Sepanjang jalanan selepas kota Semarang dilalui nyaris tanpa hambatan berarti. Sesekali saya terbangun dan mendapati bis melaju kencang di jalanan yang sempit dan tanpa satu kendaraan pun di depannya. Sepertinya di daerah Sluke-Kragan.
04.15
Tiba di RM Taman Sari, Tuban. Hampir semua penumpang turun untuk Sholat Subuh, menikmati segelas minuman hangat, atau sekedar ke toilet. Di RM Taman Sari ini, PK Bandung-Malang bertemu dengan beberapa armada PK lainnya dari Jakarta. Kebanyakan bertujuan Surabaya dan Malang.



05.00
Bis kembali diberangkatkan. Pergantian sopir kembali terjadi. Ternyata kedua sopir mengatur sendiri sistem pergantian mereka, tidak lagi terpaku dengan prinsip pinggir dan tengah. Tetapi fleksibel sesuai kemampuan mereka. Di sepanjang Tuban hingga Babat, relatif tidak ada hambatan berarti. Hanya beberapa bumel tujuan Surabaya yang berjalan perlahan sehingga bisa diblong tanpa perlawanan.

07.00
PK mengisi solar di sebuah SPBU dekat terminal Bunder, Gresik.
09.00
Tiba di Karanglo, sebelah utara kota Malang. Kami turun di Karanglo dan melanjutkan perjalanan dengan taksi ke Kota Batu.
Rincian Biaya:
Pahala Kencana Bandung-Malang 190.000
Seharusnya PK jur Bandung – Malang tiba di Malang pukul 06.00…. kalau tiba pukul 09.00 yaa sudah pastilah sebagian orang2 lebih baik naik KA Malabar yang tiba di stasiun Kota Malang 08.30 atau 09.45….
Salam Satu Jiwa….
sory, koreksi tadi seharusnya 08.45 bukan 09.45 yaa….
Mas mo nanya klo mau ke batu dari bandung pake bis PK turun yg paling deket itu di Karanglo ya?
Klo pakai taksi dari Karanglo ke Batu berapa ya harganya? Kalau pake angkot ada ga? Berapa harganya?
Sorry baru bales om Toms. Iya, turun di karanglo. di dekat pertigaan sudah ada pangkalan taksi.
Naik taksi sekitar 60 ribuan. Kalau ke rumah saya (kira-kira 7 km sebelum batu, habis 45 ribuan)